TUTUP
TUTUP
BISNIS

Gurihnya Bisnis 'Buah Surga'

Usaha perkebunan ini dibangun, setelah menunaikan ibadah Haji.
Gurihnya Bisnis 'Buah Surga'
Sulistyo Wahono

VIVA.co.id – Sulistyo Wahono tak menyangka, perjumpaannya dengan sebuah kedai di sekitar kebun kurma di Mekah, Arab Saudi, sepuluh tahun lalu, menjadi jalan mata pencahariannya kini. 

Di kedai itu, menurut pria yang biasa disapa Sulis itu, disodori manisan hasil perasan buah Tin oleh pemilik kedai. Sulis langsung ingat Alquran. Dia menganggap itu manisan dari 'buah surga'.

Menyambangi kedai itu dilakukan Sulis, kala bersama istrinya, Ardy Anik Setiawati, saat menunaikan ibadah haji di Mekah pada 2007 lalu. Di kala senggang sebelum pulang ke Tanah Air, ketua rombongan mengajak Sulis dan rombongan mampir ke kebun kurma di dekat pemondokan. Rupanya jemaah haji dari berbagai negara tumplek-blek di kebun itu.

Tidak ingin berdesakan, Sulis dan istrinya berjalan-jalan di sekitar kebun kurma. Sebuah kedai menjual berbagai jenis jajanan khas Arab ditemui. Manisan, atau permen juga ada. 

"Semacam toko oleh-oleh," kata Sulis, ditemui wartawan di rumahnya Jalan Simorejo Sari B XIII/11A, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Jawa Timur, Minggu 16 April 2017.

Buah Tin

Satu jenis manisan jadi perhatian Sulis. Si pemilik kedai menjelaskan manisan berwarna cokelat itu olahan dari buah Tin. Pria berusia 48 tahun itu langsung ingat surat ke-95 dalam Alquran, Surat At-Tien. 

"Ternyata, buah yang disebut dalam Alquran itu memang ada. Awalnya, saya mengira buah Tin hanya ada di surga." ceritanya.

Hingga sampai di Tanah Air, buah Tin tak lekas hilang dari pikiran Sulis. Dia mencari tahu di mana bisa mendapatkan bibit tanaman itu untuk dibudidayakan di rumah. Dia baru mendapatkan bibit Tin setahun kemudian, dari tetangganya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Jeddah, Arab Saudi.

Sulis ingat betul, waktu itu dia masih mengontrak di Surabaya. Paket 200 bibit Tin yang dia peroleh dari sang tetangga, ditanamnya di lahan yang kini jadi tempat tinggalnya di Sukomanunggal. 

"Enam bulan sudah berbuah," ujarnya.

Untuk merawat tanaman Tin, Sulis mengaku banyak mencari tahu di internet. Ternyata, tidak sesulit yang dibayangkan. Pupuk yang dia pakai ialah pupuk kandang. 

Dia pun membudidayakan tanaman bernama lain Ara itu dengan cara cangkok. "Niat saya waktu itu cuma ingin agar banyak orang tahu kalau buah Tin seperti disebut di Alquran memang ada," tambahnya.

Sulis juga mempelajari manfaat tanaman dan buah Tin untuk kesehatan. Ternyata, khasiatnya luar biasa. Mulanya hanya satu dua teman yang mencoba untuk kesembuhan penyakit, seperti diabetest, bahkan kanker. Karena khasiatnya, lama-lama banyak orang yang ingin menanam sendiri tanaman bernama ilmiah ficus carica itu.

Sejak itum Sulis mengaku menjadikan budidaya tanama Tin-nya sebagai bisnis. Jualan bibit Tin sejak 2009. Kini, bukan hanya teman dan tetangga yang membeli tanaman herbalnya itu. Pasar bibit Tin cangkokan Sulis merambah hingga ke negeri luar. 

Dia menyebut beberapa pasar ekspor bibit Tin-nya, yakni Timor Leste, Malaysia, Brunai, dan Hong Kong. Di pasaran, Sulis melepas antara Rp100 ribu sampai Rp10 juta per bibit Tin. 

Tergantung jenis, asal, dan tingkat kemujaraban Tin-nya. Dia juga menjual daun kering Tin kemasan toples 400 kilogram. "Lumayan, setiap bulan saya dapat jutaan rupiah dari ekspor bibit dan daun kering Tin sebulan sekali," kata Sulis. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP