TUTUP
TUTUP
BISNIS

S&P Naikkan Rating Utang Indonesia, IHSG Meroket

Indonesia naik peringkat ke katagori layak investasi.
S&P Naikkan Rating Utang Indonesia, IHSG Meroket
IHSG  (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

VIVA.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia naik cukup tajam pada sesi perdagangan terakhir pekan ini, merespons keputusan Standard and Poor’s yang menaikkan peringkat Indonesia ke level Investment Grade atau layak investasi. Padahal, lantai bursa pada awal perdagangan sempat dibuka di zona merah, karena aksi jual investor.

Mengutip data Bursa Efek indonesia, Jumat 19 Mei 2017, IHSG ditutup menguat 146,4 poin atau 2,59 persen ke level 5.791,88. Setelah lembaga pemeringkat internasional itu menaikkan peringkat Indonesia ke level layak investasi, bursa saham nasional sempat menembus rekor tertinggi sepanjang di level 5.825,21.

Sepanjang perdagangan pada hari ini, bursa saham nasional bergerak di rentang 5.643,54 - 5.630,07. Penguatan di hampir 230 saham, mendorong IHSG berada di zona hijau. Sementara 98 saham lainnya tercatat melemah, dan 113 saham lainnya tercatat stagnan atau tidak berubah.

Sementara itu, indeks LQ45 tercatat menguat 3,07 persen ke level 970.396, sementara IDX30 menguat 3,1 persen ke level 530,463. Hampir seluruh indeks sektoral pun ditutup di zona hijau. Dengan Total frekuensi perdagangan saham hari ini pun mencapai 377.880 kali, dengan volume perdagangan 8,6 miliar saham.

Keputusan S&P menaikkan peringkat Indonesia mengacu pada berbagai langkah efektif pemerintah, dalam menjaga kas keuangan negara kredibel. Apa yang dilakukan pemerintah, dianggap cukup baik ditengah masih adanya ketidakpastian ekonomi global.

Selain S&P, lembaga pemeringkat internasional lainnya seperti Fitch Rating Agency maupun Moodys Investor Service telah lebih dulu menyematkan peringkat layak investasi Indonesia. Dengan kenaikan tersebut, diharapkan pandangan investor terhadap prospek perekonomian nasional bisa semakin membaik ke depan.

“Diharapkan aliran modal yang masuk, baik itu itu investasi portofolio atau FDI (Foreign Direct Invesment) bisa semakin deras ke pasar keuangan kita,” jelas Ekonom PT Bank Permata, Josua Pardede, kepada VIVA.co.id di Jakarta. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP